Rabu, 27 Mei 2015

renungan buddhis terbaru 3

Ada empat macam kebahagiaan yang dapat dimiliki oleh seorang perumah tangga yang menikmati kegembiraan setiap saat dan bila ada kesempatan. Apakah keempat hal itu? Keempat hal itu adalah kebahagiaan karena memiliki, kebahagiaan karena kekayaan, kebahagiaan karena tidak berhutang, dan kebahagiaan karena tidak berbuat salah.
Dan apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan karena memiliki? Tentang hal ini, seorang perumah tangga memiliki kekayaan yang diperoleh dengan kerja keras, dengan kekuatan tangan dan cucuran keringat, serta secara halal. Bila ia berpikir tentang hal ini, ia akan merasa puas dan bahagia.
Dan apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan karena kekayaan? Tentang hal ini, seorang perumah tangga memiliki kekayaan yang didapatnya secara halal, dan dengan kekayaannya itu, ia banyak melakukan kebajikan. Bila ia berpikir tentang hal ini, ia akan merasa puas dan bahagia.
Dan apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan karena tidak berhutang? Tentang hal ini, seorang perumah tangga tidak mempunyai hutang, baik besar maupun kecil kepada siapa pun. Bila ia berpikir tentang hal ini, ia akan merasa puas dan bahagia.
Dan apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan karena tidak berbuat salah? Tentang hal ini, seorang siswa utama akan diberkahi karena perbuatan benar yang dilakukannya dengan badan jasmani, ucapan, dan pikiran. Bila ia berpikir tentang hal ini, ia akan merasa puas dan bahagia.

mahapunama sutta

MN 109 Mahapunnama Sutta
14. Kemudian, dalam pikiran salah seorang bhikkhu muncul pikiran ini: “Jadi, sepertinya, bentuk materi adalah bukan diri, perasaan adalah bukan diri, persepsi adalah bukan diri, bentukan-bentukan adalah bukan diri, kesadaran adalah bukan diri. Kalau begitu, diri apakah, yang melakukan perbuatan sebagai akibat dari apa yang dilakukan oleh apa yang bukan diri?” [7]
Kemudian Sang Bhagavā, dengan pikiranNya mengetahui pikiran bhikkhu tersebut, berkata kepada bhikkhu itu sebagai berikut: “Adalah mungkin, para bhikkhu, seseorang sesat di sini, yang bodoh dan dungu, dengan pikirannya yang dikuasai oleh ketagihan, akan berpikir bahwa ia dapat melampaui pengajaran Sang Guru sebagai berikut: ‘Jadi, sepertinya, bentuk materi adalah bukan diri … kesadaran adalah bukan diri. Kalau begitu, diri apakah, yang melakukan perbuatan sebagai akibat dari apa yang dilakukan oleh apa yang bukan diri?’ Sekarang, para bhikkhu, kalian telah dilatih olehKu melalui tanya jawab dalam berbagai kesempatan sehubungan dengan berbagai hal. [8]
15. “Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian? Apakah bentuk materi adalah kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Yang Mulia.” – “Apakah apa yang tidak kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Yang Mulia.” – “Apakah apa yang tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Yang Mulia.”
“Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian: apakah perasaan … persepsi … bentukan-bentukan … kesadaran adalah kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Yang Mulia.” – [20] “Apakah apa yang tidak kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Yang Mulia.” – “Apakah apa yang tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Yang Mulia.”
16. “Oleh karena itu, para bhikkhu, segala jenis bentuk materi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang … segala bentuk materi harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Segala jenis perasaan apapun … Segala jenis persepsi apapun … Segala jenis bentukan-bentukan apapun … Segala jenis kesadaran apapun … segala jenis kesadaran harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’
17. “Dengan melihat demikian, seorang siswa mulia yang terlatih menjadi kecewa dengan bentuk materi, kecewa dengan perasaan, kecewa dengan persepsi, kecewa dengan bentukan-bentukan, kecewa dengan kesadaran.
18. “Karena kecewa, ia menjadi bosan. Melalui kebosanan [batinnya] terbebaskan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’”
http://fb.com/DhammacittaDaily
http://instagram.com/dhammacitta
http://dhammacitta.org/forum

renungan buddhist 2

Anda Harus Mengerti Dan Mengetahui Diri Sendiri *
Jika anda yakin dan percaya pada diri sendiri, anda akan merasa tenang. Ketika orang mengkritik anda, dan ketika mereka memuji anda, pikiran anda tetap tenang. Apapun yang mereka katakan tentang anda, anda tetap tenang dan tak terganggu.
Mengapa anda bisa begitu santai? Karena anda mengenal diri anda sendiri. Jika orang lain memuji anda ketika anda sebenarnya pantas untuk dikritik, apakah anda akan benar-benar percaya dengan apa yang mereka katakan?
Tidak, anda tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang orang lain katakan, anda berlatih sendiri dan menilai semua hal untuk diri sendiri. Ketika orang yang tidak punya dasar dalam latihan dipuji, hal itu membuat mereka senang. Mereka menjadi mabuk kepayang.
Sama saja dengan saat anda menerima kritikan, anda harus melihat ke dalam batin dan merenungkan diri anda sendiri. Mungkin saja hal itu tidak benar. Mungkin mereka mengatakan anda salah, tetapi sebenarnya, mereka salah dan anda tidak bersalah sama sekali.
Jika benar demikian, maka tidak perlu marah kepada mereka, karena mereka tidak berbicara sesuai kebenaran. Di sisi lain, jika apa yang mereka katakan benar dan anda benar-benar salah, maka lagi-lagi tidak ada alasan untuk marah kepada mereka.
Jika anda bisa merenung dengan cara seperti ini, anda akan merasa tenang sekali, karena anda melihat semuanya sebagai Dhamma, dari pada dengan membabi buta bereaksi terhadap opini dan preferensi anda. Inilah cara berlatih.
Buddha mengajarkan "Paccatam Veditabbo Vinnuhi'' Orang yang bijaksana adalah orang yang tahu tentang dirinya sendiri. Itu berarti bahwa anda harus berlatih sendiri dan memperoleh pemahaman mendalam dari pengalaman anda sendiri. Anda harus mengerti dan mengetahui diri sendiri.

renungan buddhis terbaru

Seseorang yang bijaksana dan taat,
selalu ramah dan pandai,
rendah hati dan tidak sombong,
orang yang demikian akan selalu dihormati.
Bangun pagi-pagi dan menjauhi kemalasan,
tetap terkendali dalam perselisihan,
tak tercela tingkah lakunya dan pandai membawa diri,
orang yang demikian akan selalu dihormati.
Suka bersahabat dan setia kawan,
mau menerima orang lain dan berbagi dengan mereka,
seorang pembimbing, penasehat, dan sahabat sejati,
orang yang demikian akan selalu dihormati.
Murah hati dan ramah tamah dalam ucapan,
melakukan kebajikan bagi orang lain,
dan tidak membeda-bedakan mereka,
orang yang demikian akan selalu dihormati.